HIKMAH RAMADHAN

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/14/2008 | | 0 komentar »

Tiga Fenomena dalam Ramadhan
Oleh: Ustadz Abdurrahman Muhammad

"Mungkin hasil yang dicapai seorang shaaim (yang berpuasa) hanya lapar dan haus semata. Dan bisa jadi hasil yang diperoleh oleh orang yang shalat malam (giyamul-lail) hanyalah berjaga." (Riwayat Ahmad dan Hakim).

Ada tiga fenomena yang menonjol di bulan Ramadhan, yang menggambarkan betapa masih carut marutnya pemahaman umat Islam terhadap ajarannya sendiri.
Pertama, sebagian besar kaum Muslimin baru mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) setelah datangnya bulan Ramadhan. Selama sebelas bulan penuh mereka menjauhi al-Qur'an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, mereka mendekati tempat-tempat kemungkaran, merapat pada kejahatan, dan melalaikan Allah SWT.

Tatkala Ramadhan tiba, mereka lalu seolah-olah baru tersentak kaget. Mereka bersiap menyambut puasa dengan mendatangi masjid beramai-ramai. Mereka seolah tenggalam dalam kekhusyukan dan kesahduan puasa di bulan Ramadhan. Mereka terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah SWT.

Pertanyaannya, bukankah mereka menyadari bahwa Tuhan pencipta bulan Ramadhan.juga pencipta bulan Sya'ban dan Syawwal? Bukankah mereka telah mengetahui bahwa Allah Maha Melihat perbuatan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya? Lalu mengapa mereka baru terlihat sibuk beribadah pada bulan Ramadhan saja?
Wahai saudaraku, Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan mencatat semua amalan kita, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Untuk itu, jangan berhenti berbuat baik hanya di bulan Ramadhan saja. Teruskan...!

Kedua, pada malam-malam bulan Ramadhan sebagian kaum Muslimin meramaikannya dengan shalat tarawih berjama'ah. Mereka berdatangan dari segala penjuru hingga masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh sesak bahkan meluber hingga ke jalan-jalan. Pemandangan ini sungguh sangat menggembirakan, tapi pertanyaannya, kemana mereka setelah Ramadhan berakhir?

Padahal shalat tarawih kedudukannya hanyalah sunnah, sedang shalat lima waktu adalah fardhu, yang wajib dilaksanakan secara berjamaah di masjid (bagi kaum pria yang mampu dan tidak ada halangan).
Pemahaman yang salah kaprah seperti yang dipraktikkan selama ini sudah saatnya diperbaiki. Kaum Muslimin sudah saatnya lebih cerdas dari sebelumnya. Mereka harus tahu bahwa amalan yang wajib harus diutamakan daripada amalan sunnah. Menjalankan shalat fardhu berjama'ah lebih penting dan lebih utama daripada shalat tarawih berjamaah.

Ketiga, kebiasaan buruk selama puasa adalah memperpanjang tidur pada siang hari. Ada sebagian yang meneruskan tidurnya setelah shalat Subuh hingga siang hari dan ada pula yang tidur mulai dari Dzuhur hingga Ashar. Dengan tidur sepanjang itu, di mana kenikmatan menjalankan puasa? Di mana kita berlatih menahan lapar, merasakan pahit getirnya nasib Para fuqara dan masakin?
Lebih ironis lagi jika malam-malam hari Ramadhan dihabiskan untuk begadang dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, mendengarkan lagu-lagu lewat radio, menonton televisi hingga larut malam, atau melakukan permainan lainnya, sementara siang harinya justru dipakai untuk tidur. Lalu di mana makna iman di bulan Ramadhan?
Tidur siang hari memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam tempo yang sangat panjang, lalu di mana makna puasa? Jika Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) dan para sahabat memanfaatkan bulan Ramadhan untuk berperang, lalu pantaskah jika kita justru menghabiskannya untuk tidur-tiduran?

*Pimpinan Umum Hidayatullah (Sahid edisi september 2008)

Read More..

NEWS

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/14/2008 | | 1 komentar »

Peresmian Kopontren Hidayatullah Batam
Hidayatullah Batam terus memacu diri. Terobosan demi terobosan terus di lakukan. Akhir Mei lalu, menteri Usaha Kecil dan Menengah, Surya Darma Ali, menyaksikan bagimana dinamika Hidayatullah Batam terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Surya Darma Ali,hadir untuk meresmikan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Hidayatullah Mandiri. Selain itu juga membuka Workshop Trainer Kelompok Bermain Taman Kanak-kanak (KBTK) se-Sumatera, serta peletakan batu pertama Perpustakaan Pesantren.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Aida Ismeth, istri Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) yang juga anggota DPD RI asal Kepri, A. Sulaiman anggota DPRD Provinsi, dan sejumlah donatur dari PT Sinergy Tarada.

Menurut Jamaluddin Nur, Pimpinan Hidayatullah Batam, dan juga ketua DPW Hidayayatullah Kepri, pengembangan ekonomi sebagai bagian dari gerakan kemandirian Hidayatullah.

Ia juga menyampaikan, bahwa pihak Otorita Batam telah memberikan bantuan berupa ruko di kawasan industri Muka Kuning. Ruko tersebut agar dimanfaatkan oleh Hidayatullah untuk mengembangkan usaha penjualan sembako.
Selain menggalakkan sektor usaha, Hidayatullah Batam juga terus melengkapi sarana pehdidikan. "Insya Allah, dalam waktu dekat pembangunan gedung SMA senilai Rp. 2,5 M yang bersumber dari APBD provinsi akan dimulai," ujar Jamaluddin.

Menurutnya tahun ini Hidayatullah kewalahan menerima murid baru mulai dari tingkat TK hingga SMA. Tahun ini juga, Hidayatullah Batam akan membuka sekolah akselerasi. Sekolah ini selain berbasis agama juga berbasis bahasa asing seperti Arab, Inggris, Mandarin, dan ilmu eksak.
Diharapkan, sekolah akselerasi ini dapat menjadi sekolab unggulan, dimana para siswanya tidak hanya mampu secara financial tapi juga secara intelektual dan spirituaL

Read More..

SUKSES RAMADHAN

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/14/2008 | | 0 komentar »

20 Ciri Sukses dan Gagal Ramadhan

Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sia-sia. Apa yang harus kita lakukan? Terapkan 20 cara meraih sukses Ramadhan dan hindari 20 ciri gagal Ramadhan berikut ini.
1. Mengobarkan rindu Ramadhan, meluruskan niat, dan memancangkan tekad untuk meraih berbagai keutamannya.
2. Membuat rencana (planing) yang matang dalam mencapai target-target ibadah dan amal shalih Ramadhan, serta target mengikis kebiasaan jahiliyah.
3. Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa

Tidak berlebih-lebihan dalam bersahur dan berbuka puasa (ifthar), serta membiasakan mengkonsumi kurma atau makanan yang manis lainnya.
5. Menunaikan zakat fitrah, harta, profesi, dan lain-lain, serta banyak berinfaq dan sedekah.
6. Berusaha tilawatul Qur'an (membaca Qur'an) sampai khatam (selesai) serta menghapal dan mentadabburinya.

7. Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca berbagai tulisan dan buku tentang Islam, khususnya tentang puasa, baik segi fiqih maupun maknawiyahnya.
8. Meningkatkan disiplin dan muraqabatullah (perasaan bahwa Allah mengawasi kita), karena puasa melatih disiplin.
9. Hidupkan malam dengan shalat tarawih atau qiyamullail dan targetkan harus bisa penuh 30 malam.
10. Menjauhkan diri dari sebab-sebab yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan seperti perilaku, pergaulan, bacaan, tontonan, dan konsumsi (misalnya rokok) yang sia-sia untuk selama-lamanya.
11. Memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang melakukan puasa, terutama bagi mereka yang kesulitan, seperti fakir miskin dan orang yang berada dalam perjalanan.
12. Banyak berdzikir, minta ampun dan berdoa pada setiap kesempatan (duduk, berdiri, dan berbaring).
13. Memberikan skala prioritas terhadap segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah SWT.
14. Memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan amal sosial bagi kaum dhuafa serta kegiatan dakwah.
15. Berusaha untuk saling menjaga hati, lisan, dan sikap untuk menyempurnakan puasa serta menjaga pandangan. Bagi wanita yang belum menutup aurat harus memulai menutup aurat untuk seterusnya.
16. Berusaha keras untuk bisa menjalankan i'tikaf (berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah dan menyempurnakan amal ibadah kita) pada 10 malam terakhir dengan tekad meraih lailatul qadar dan memperbaiki diri.
17. Menghindari amalan yang bid'ah di bulan Ramadhan.
18. Memperhatikan dan berusaha mempraktikkan betul rambu-rambu Ramadhan, seperti hal-hal yang makruh atau haram.
19. Menyambung Ramadhan dengan melakukan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal.
20. Tidak berlebih-lebihan dalam menyambut idul fitri dengan berbangga-bangga dalam hal makanan, pakaian, atau hal-hal duniawi lainnya.

20 Ciri Gagal Ramadhan
Sebagai sebuah medan training (tarbiyah), Ramadhan punya indikator keberhasilan. Bagaimana mengukurnya? Yang paling mudah adalah dengan melihat ciri kegagalannya berikut ini.
1. Tidak mempersiapan diri semaksimal mungkin jauh hari sebelum Ramadhan.
Persiapan diri tersebut meliputi,
pertama, persiapan hati (al-isti'dad al-ruhiy) dengan kerinduan dan kegembiraan' menyambut kedatangannya serta dengan berdoa agar bisa dipanjangkan umur sampai ke Ramadhan.
Kedua, persiapan keilmuan (al-isti'dad al-fikriy) dengan menguasai ilmu dan hakikat Ramadhan.
Ketiga, persiapan fisik (al-isti'dad al jasadiy) dengan menjaga kesehatan dan membiasakan tubuh untuk berpuasa sunnah di bulan Sya'ban.
Keempat, persiapan logistik (al-isti'dad al-maliy) dengan menyiap bekal untuk sedekah. dan
kelima, kondisikan lingkungan.
2. Gampang mengulur shalat fardhu.
Sa'id bin Musayyab mengelompokkan orang yang tak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya ke dalam tarkush-shalah (meninggalkan shalat). Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.
3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul lail Hadits Qudsi mengatakan, "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah sampai Aku mencintainya."
4. Kikir dan rakus pada harta Benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan sedekah adalah tanda gagal Ramadhan. Sebab; salah satu sasaran utama shiyam adalah membuat manusia mampu
mengendalikan sifat rakus pada makan, minum maupun pada harta benda.
5. Malas membaca al-Qur'an.
Ramadhan juga disebut Syahrul Qur'an (bulan al-Qur'an). Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya siang dan malam Ramadhan untuk berinteraksi dengan al-Qur'an.
6. Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda, "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."
7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
Umar ibn Khattab RAberkata, "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI: 178).
8. Memutuskan tali silaturahim.
Ketika menyambut datangnya Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya."
9. Menyia-nyiakan waktu.
Termasuk gagal Ramadhan adalah lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.
10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup adalah tanda gagal Ramadhan. Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.
11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
Salah satu ciri utama alumni Ramadhan yang berhasil ialah ketaqwaannya semakin kuat. Salah satu wujudnya adalah semangat mensyiarkan Islam.
12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam (puasa) adalah amanah Allah SWT yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sirr (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata.
13. Rendah motivasi hidup berjamaah:
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaah. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf [61]: 4)
14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq.
15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
Ramadhan adalah bulan dakwah dan jihad. Maka, di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin merajalela saat ini, para jebolan akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih membela dan menegakkan kebenaran.
16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Ramadhan adalah bulan kasih sayang. Karena itu, rasa cinta kita terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat seharusnya bertambah.
17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan selurah rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sedekah, karena istighfar dan sedekah dapat menambal yang robek-robek dari puasa.
18. Terlalu sibuk mempersiapkan lebaran, sementara i'tikaf diabaikan.
Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah SWT dalam bulan berkah ini Jadi fokuslah ke sini, tidak kepada urusan dunia.
19. Menganggap dan menjalani Idul Fitri sebagai hari kebebasan berbuat jahiliyah lagi.
Makna Idul Fitri antara lain berarti " kembali ke fitrah." Namun kebanyakan orang memandangnya sebagai hari dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan pergi, ucapan dan tindakannya kembali jahiliyah.
20. Tidak mengalami peningkatan keharmonisan dalam keluarga.
Berbagai ibadah di bulan Ramadhan adalah sarana yang sangat tepat untuk membangun keharmonisan dalam keluarga. Jangan biarkan keluarga kita tidak berhasil meraihnya.
Wallahu a'lam bish shawab.***

*Sahid September 2008

Read More..

KAJIAN UTAMA

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/03/2008 | | 0 komentar »


Ramadhan Bulan Penuh Berkah

Ramadhan adalah bulan mulia, yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Jika seorang hamba beramal saleh, apakah dengan jalan bersedekah, memberi ta’jil kepada orang – orang yang berpuasa atau enginfakan hartanya di bulan ini, maka Allah SWT akan melipat gandakan pahalanya, melebihi apa yang diberikan diluar Ramadhan.
Karena itulah wajar kalau bulan ini, banyak manusia yang mendekatkan diri kepada Allah, untuk meraih pahala, ampunan dan kasih sayang Nya. Serta merugilah mereka yang menjauh dari Nya. Di bulan ini pula, Allah SWT menjanjikan kepada hambanya yang bersungguh – sungguh melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan gelar Muttaqin, yaitu puasa yang tidak sekedar haus dan lapar saja.

Di bulan Ramadhan, manusia, tua, muda dan anak – anak dengan penuh semangat menghidupkan malam – malam Ramadhan, melalui sholat tarawih, tadarus Qur’an dan kajian – kajian keagamaan islam. Semua itu dilakukan karena ingin mendapatkan ridho Allah SWT dan keberkahan dari-Nya. Jangan heran jika masjid dan mushola menjadi penuh sesak.

Tak ketinggalan tayangan TV yang biasanya sarat dengan maksiat, berubah menjadi tayangan berbau religi. Sekolah – sekolah dan kampus – kampus berlomba – lomba mengadakan pesantren kilat dan buka puasa bersama. Para artis yang menyesuaikan di bulan Ramadhan ini, tampil ramai – ramai memakai kerudung dan baju panjang ( baju koko).

Di bulan penuh berkah ini tidak ada salahnya manusia berubah, dari tidak baik menjadi baik, sukur – sukur seterusnya, bisa mendatkan hidayah untuk istiqomah menjadi muslim – muslimah yang sholeh dan sholehah.

Mari kita isi Ramadhan tahun ini, dengan ibadah nafsiah, ibadah muamalah dan kesalehan sosial. Berbagi dan peduli kepada mereka yang kekurangan. Di bulan ini pula mari kita tingkatkan kwalitas iman dan taqwa kita kepada-Nya, agar tercapai dari tujuan puasa itu sendiri menjadi insan Muttaqin. (ARS)

Read More..

PENGARUH PUASA

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/03/2008 | | 0 komentar »

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Jiwa
M. Arief fath.R.SE

Dua buah buku yang ditulis DR Alan Cott, seorang doktor ahli syaraf dari Amerika menulis tentang manfaat puasa yang berjudul ‘Fasting as a way of life’ dan ‘Fasting the ultimate diet’. Dari kedua buku tersebut, ditulis secara ilmiah bagaimana keterkaitan antara puasa dengan gangguan kejiwaan terutama yang banyak dialami oelh penduduk dunia akhir – akhir ini yaitu kecemasan (Anviety).
Kalau pengertian puasa dalam ajaran islam yaitu menahan diri ( dari nafsu makan, minum, hubungan suami istri dll) sejak fajar sidiq sampai terbenam matahari. Namun dalam pengertian DR Alan Cott, puasa masih agak beda dengan ajaran islam yaitu klien masih boleh minum walapun hanya sedikit.
Penelitian DR Alan Cott terhadap klien di jadikan sampel penelitian adalah orang – orang yang mengalami gangguan kejiwaan, kecemasan yang hebat dan rata – rata mereka mengalami insomnia (gangguan tidur) dan kehilangan orientasi terhadap kehidupan (Psikososial). Setelah klien disuruh berpuasa selama 30 hari, ternyata klien yang mengalami gangguan jiwa dirumah sakit Grace Square New York bisa disembuhkan dengan terapi puasa tersebut.
Hal in diperkuat lagi oleh penelitian DR Nicolayev seorang guru besar yang bekerja pada lembaga Psikiatri Moscow, dimana mengadakan penelitian terhadap dua kelopompok klienya. Yang kelopok pertama orang – orang yang sakit diberikan obat – obatan seprti pada umumnya dan kelompok kedua diperintahkan untuk berpuasa. Dan hasilnya sungguh menggembirakan dimana klien – klien yang diperintahkan puasa tersebut sembuh.
Selain dibuktikan dengan sebuah penelitian diatas, puasa juga mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang rajin berpuasa dalam tugas – tugas kolektif memperoleh skor yang jauh lebih tinggi dibanding yang tidak bepuasa.
Seorang tokoh ilmuwan barat yang notabene tidak mengenal islam terutama perintah berpuasa, dia mampu membuktikan secara ilmiah tentang manfaat puasa. Apalagi kita umat islam yang sejak kecil telah diajarkan berpuasa seringkali kita belum merasakan manfaat nayata dari perintah Allah tersebut.
Semoga dengan ulasan diatas mampu menggugah kesadaran kita untuk lebh mensyukuri nikmat Allah berupa perintah puasa Ramadhan, dengan jiwa yang khusyu’ dan tadarru’ hanya mengharap ampunan dan ridho Allah semata.

Read More..

HIKMAH

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/03/2008 | | 0 komentar »

Bangun Kesalehan Sosial Di Bulan Ramadhan
Pada waktu musim paceklik dimasa pemerintahan Abu Bakar As Shidiq r.a, banyak orang yang tengah menderita kelaparan. Di tengah kesulitan yang menderita rakyatnya tersebut, Abu Bakar mengatakan “ Sabarlah kalian, besok pagi akan datang khalifah Utsman bin Affan membawa bahan makanan yang melimpah, pasti kalian akan kebagian darinya.”
Terbukti benar pernyataan Abu Bakar, Esok harinya, khalifah yang dimaksud itu datang. Pedagang – pedagang Madinah berkerumunan dengan mengajukan penawaran yang sangat menggiurkan, yang biasanya dijual 10 ditawar 12 sampai 15. tetapi Utsman bin Affan menyampaikan bahwa sudah ada yang menawar dengan memberi keuntungan sepuluh kali lipat. Pedagang – pedagang itu terheran – heran dan menyampaikan bahwa mereka ini adalah pedagang – pedagang Madinah yang terkenal. Siapa gerangan pedagang seberani itu melambungkan penawaran? Utsman menjawab bahwa Allah SWT yang telah menawarnya. Berdasarkan Al Qur’an surat Al An’am: 160 yang artinya:
“ Barang siapa yang membawa amal yang baik, akan dibalas dengan sepuluh kali lipat dari amalnya itu.”
Pedagang – pedagang itu mundur , lalu Utsman bin Affan bereru sebagai persaksian, “ Ya Allah, akan kuserahkan barang – barang ini kepada orang – orang miskin di Madinah tanpa bayar dan tanpa perhitungan.”
Untuk itulah dibulan Ramadhan seperti sekarang ini sangat tepat jika kita meneladani sosok Utsman bin Affan, membantu dan meyelamatkan saudara – saudara kita yang kekurangan, yang masih membutuhkan uluran kepedulian kaum aghniya (kaya).
Kita bangun kesalehan sosial sebagai wujud ‘empati’ dan peduli kepada rakyat miskin. Yang tidak semakin berkurang tapi justru makin bertambah jumlahnya. Lebih – lebih jika harga – harga kebutuhan pokok terus melonjak naik, dipastikan rakyat miskin akan semakin bertambah berat beban hidupnya.
Karenannya tidak ada salahnya jika kita, dibulan Ramadhan yang mulia ini mau berbagi kepada mereka. Ikut menggembirakan mereka, sehingga harta yang kita berikan akan menjadi berkah da mendapatkan kunci syurga.
Nabi SAW pernah berpesan kepada Aisyah R.A.
“ Wahai Aisyah, cintailah orang – orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat.”
Dan kepada kita, Nabi berwasiat “ Segala sesuatu itu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang – orang miskin.”. (Abu Rosyida)

Read More..

KOLOM

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/01/2008 | | 0 komentar »

Zakat Mengentas Kemiskinan Ummat
Ust. H. Abdul Karim Hasan

Jika ada sebuah pernyataan yang disampaikan bahwa pengumpulan dana zakat, infak dan shodaqoh berkaitan dengan aktifitas pendanaan terorisme, seperti yang pernah dimuat Republika (9/06/08). Hal itu sungguh sangat menyinggung perasaan ummat islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan . apalagi jika pernyataan tersebut lebih di dasarkan pada prasangka pribadi tanpa bisa dibuktikan dengan data dan fakta yang sebenarnya.


Inilah pentingnya sosialisasi mengenai zakat, infak dan shodaqoh (ZIS) kepada masyarakat dan ummat agar dapat memahami peran zakat bagi kepentingan ummat, sehingga tidak akan ada lagi ucapan atau pernyataan senada di lain waktu.
Imam Zuhri berkirim surat kepada Umar bin Abdul Azis tentang penempatan sunah dalam urusan zakat, sebagian untuk yang piku dan lumpuh, sebagian untuk si miskin yang sakit, yang tidak mapu bekerja, sebagian untuk si miskin yang meminta dan membutuhkan makanan, sebagian lagi untuk si miskin yang datang ke masjid – masjid, yang tidak mempunyai pekerjaan dan gaji serta penghasilan yang mencukupi, sebagian lagi untuk yang fakir yang mempunyai hutang bukan untuk maksiat dan lain sebagaunya.
Begitulah zakat yang banyak menyangga problematika ummat khususnya untuk mereka para dhuafa, fuqara dan masakin.
Zakat tidak hanya meratakan kesejahteraan sosial, menjadi jembatan antara si kaya dengan si miskin, lebih dari itu zakat mampu mengentaskan kemiskinan ummat dari kefakiran , kebodohan, ketertinggalan dan keterbelakangan, yang semuanya itu menjadi problem yang harus di pecahkan bersama – sama.
Terkait dengan waktu berzakat, Allah tidak membatasi dibulan suci Ramadhan saja, tapi juga diluar bulan Ramadhan.

“ Sucikan harta dan jiwa dengan Zakat, karena dengan zakat itu harta menjadi berkah dan melimpah.”

“ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka, sesunguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui .” (Q.S At Taubah 103)


Read More..

WISATA RUHANI

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/01/2008 | | 0 komentar »

Wisata Ruhani’ Jamaah SNW

Untuk menambah keyakinan dan keimanan serta menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H, maka Ibu - Ibu jama’ah SNW yang dipimpin ustadz Hj, Suharini telah mengadakan kajian pebekalan Ramadhan yang dikemas dalam ‘Wisata Ruhani’ bertempat di Pusdiklat villa Hidayatullah Batu Jawa Timur, senin (28/07).


Acara yang berlangsung sehari semalam itu telah diisi oleh ustadzah Hj. Farida Hanum dari Jakarta, serta ustadz KH. Hasan Hasly dari pesantren Hidayatullah Batu. Dengan materi yang disampaikan kajian Al – Qur’an, panduan puasa, dan shlat khusyu’ yang mendapatkan sambutan hangat dari kurang lebih 70 orang peserta yang sebagian besar kaum Ibu.
Ditengah – tengah susana yang krisis iman seperti sekarang ini, acara Wisata Ruhani ini tentu sangat bermanfaat apalagi diadakan di villa Hidayatullah yang asri, sehingga menambah kerasan bagi para peserta. Dan diharapkan denga acara tersebut dapat menbah keyakinan, serta wawasan para jamaah tentang Islam. (ARS)


Read More..

AMALAN UTAMA

Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 9/01/2008 | | 0 komentar »

Amalan Utama Bulan Ramdhan

Khusus di bulan Ramadhan, Allah benar – benar mencurahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada kita sehingga dilipat gandakanlah pahala ibadah kita berpuluh – puluh kali dibanding amalan yang dilakukan di bulan yang lian. Berikut beberapa amalan yang sangat ditekankan dalam bulan Ramadhan:

1. Meningkatkan kualitas Shalat Fardhu
Pahala shalat fardhu di bulan Ramadhan akan dilipat gandakan menjadi 70 kali lipat dibanding shalat fardhu di bulan lain. Alangkah sayangnya jika tidak kita lakukan secara benar dan khusyu’,disamping tidak mendapatkan pahala yang berlipat juga tidak akan membawa perubahan pada diri kita.
2. Memperbanyak amalan Sunnah
Barang siapa mengerjakan amalan sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai pahalanya seperti amalan wajib di bulan – bulan yang lain. Diantara amalan sunnah yang lain adalah meringankan beban orang lain, yang mana Allah menjanjikan akan meringankan (mempermudah) pemeriksaannya nanti di hari kiamat.
3. Memberi Ta’jil Orang yang Berpuasa.
Secara khusus Rosulullah menyampaikan tetang pahala orang yang memberi buka puasa. Nabi SAW bersabda “ Barangsiapa memberi makanan berbuka untuk seorang yang berpuasa, maka baginya sepadan pahala orang itu, hanya saja tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sama sekali.” (H.R Turmudzi)
4. Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur.
Begitulah kasih sayang dan kemurahan Allah pada hamba Nya yang memang tahu persis kelemahan dan kecenderungan manusia. Sehingga apa yang menjadi hak hamba – Nya (berbuka) dapat segera dirasakan, dan sebalikya apa yang menjadi hak- Nya diakhirkan. Bahkan Allah memberikan kebaikan dan keberkahan kepada orang yang menyuegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.
5. Shalat Tarawih atau Shalat Malam.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad : “ Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan Aku mensunnahkan shalat di malam harinya. Barangsiapa berpusa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.”
6. Memperbanyak Membaca Al – Qur’an.
Bulan Ramadhan merupakan bulan pertama kali diturunkannya Al – Qur’an yang merupakan petunjuk bagi manusia. Pada setiap malam Ramadhan, Malaikat senantiasa datang menemui Rosulullah untuk mengulangi kembali ayat – ayat Al Qur’an.
7. Melakukan I’tikaf di Akhir Ramadhan.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terdapat satu malam yang lebih baik dari amalan seribu bulan,tak seorangpun dapat memastikan pada malam keberapa Lailatul Qodar itu turun, oleh karena itu kita harus menghidupkan sepuluh malam tersebut untuk memperoleh Lailatul Qodar tersebut.
8. Melaksanakan Umrah.
Bagi yang dikaruniai Allah rezeki yang cukup dan mempunyai kelonggaran waktu, maka sebaiknya disempatkan untuk menunaikan umrah, karena umrah yang dilakukan pada bulan Ramadhan sama nialanya dengan Haji .
9. Meninggalkan Hal – hal yang merusak Puasa.
Rosulullah SAW bersabda dalam haditsnya “ Shaum (puasa) itu bukan semata – mata menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi juga dari perbuatan sia – sia dan kotor. Maka jika seseorang memarahimu atau menjahilimu, katakanlah bahwa aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa .(HR.Ibnu Khuzaimah, Al Haki, dan Ibnu Hibban)
10. Memperbanyak berdo’a
Ramadhan merupakan saat – saat yang paling mustajabah untuk berdo’a, karena saat itu kondisi ruhami kita berada dalam puncak kualitasnya. Permulaan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahnnya adalah ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka, maka berdo’alah untuk mendapatkan itu semua.

Read More..
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template