Hidayatullah ( Cabang Kediri)lahir pada saat umat Islam sedang menantikan datangnya abad XV H yang diyakini sebagai Abad Kebangkitan Islam. Tema pokoknya pada saat itu adalah “Back to Qur’an and Sunnah”. Hidayatullah adalah sebuah gerakan pemikiran yang mencoba menerjemahkan slogan “Back to Qur’an and Sunnah” secara lebih konkrit sehingga Al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi ‘blue print’ pengembangan peradaban Islami.
Hidayatullah ( Cabang Kediri) memandang bahwa kemunduran umat Islam lebih disebabkan karena pandangan yang parsial dalam memahami keholistikan ajaran Islam. Masing-masing kelompok mengambil tema dan titik tekan program sesuai dengan pandangannya yang sangat parsial bahkan tema dan titik program itu seringkali menjadi semacam ‘ideologi’ kelompok
Sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, Hidayatullah menyatakan diri sebagai Gerakan Perjuangan Islam (Al-Harakah al-Jihadiyah al-Islamiyah) dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya.
Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 / 2 Dzulhijjah 1392 H di Balikpapan dalam bentuk yayasan sebuah pesantren, oleh Ust. Abdullah Said (alm). Dari sebuah bentuk pesantren, Hidayatullah kemudian berkembang dengan berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah di seluruh provinsi di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional I pada tanggal 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah mengubah bentuk organisasinya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas), dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam.
Ormas Hidayatullah
Sebagai organisasi massa, keanggotaan Hidayatullah bersifat terbuka, demikian pula misi, visi, dan konsep dasar gerakannya. Hidayatullah menjadikan amal-amal usahanya bersifat otonom, dan berfungsi sebagai basis pendidikan dan perkaderan.
Hidayatullah merupakan wadah bagi komponen ummat Islam yang ingin mewujudkan idealismenya membangun masyarakat Islami dengan mengacu kepada metode/manhaj nubuwwah. Hidayatullah berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak, karena itu segala urusan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Agenda utama Hidayatullah adalah; pelurusan masalah aqidah, imamah dan jamaah (tajdid); pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah); pembersihan jiwa (tazkiyatun-nufus); pengajaran dan pendidikan (ta’limatul-kitab wal-hikmah) menuju lahirnya kepemimpinan dan ummat terbaik.
HIDAYATULLAH COMM
Categories
- AGENDA DAKWAH (1)
- Agustus 2008 (10)
- DESEMBER 08 (6)
- Donatur dan Simpatisan Ar-Risalah (1)
- JANUARI 2009 (7)
- Juli 2008 (8)
- Juni 2008 (1)
- KAJIAN UTAMA (2)
- KONTAK KAMI (1)
- Nopember 08 (5)
- Oktober 2008 (7)
- REFLEKSI (1)
- September 2008 (9)
PROFIL PESANTREN HIDAYATULLAH KEDIRI
Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 8/24/2008 | Agustus 2008 | 0 komentar »Jiwa Merdeka
Arif Fathurrahman.
Arif Fathurrahman.
Pada suatu hari, ketika Abdul Qosim Al Junaid RA, sedang menunggu jenazah bersama dengan orang orang, yang akan dishalatkan di Masjid Asy – Syuniziah. Tiba – tiba ada seorang miskin yang meminta – minta, melihat hal itu timbullah dalam perasaan Imam Al Junaid perasangka kurang baik timbul dalam hatinya.” Andaikan orang itu bekerja supaya tidak meminta – minta, tentu akan lebih baik baginya.”. peristiwa itu berlalu begitu saja.
Pada malam harinya, ketika Imam Al Junaid akan berdzikir yang biasa beliau kerjakan, ternyata terasa sangat berat tidak mampu berbuat apa – apa. Imam Junaid yang dikenal sebagi orang yang ‘Alim, guru para sufi hanya duduk termenung hingga tertidur dan bermimpi. Dalam tidurnya beliau bermimpi tentang peminta – minta yang dilihatnya siang tadi dan menasihati Imam Al Junaid agar tidak berburuk sangka walaupun dalam hati sekalipun.
Kisah Imam Al Junaid tersebut mengisyaratkan bahwa kedudukan spiritual seseorang yang tinggi di sisi Allah, karena ketaqwaannya kepada sang Khaliq, akan terbimbing hatinya walaupun hanya perasaan yang masih terpendam dalam hatinya.
Hal tersebut menunjukan bertapa setiap perbuatan seseorang yang selalu terkontrol oleh Allah tatkala sang jiwa hanya tergantung kepada Nya. Spiritual yang selalu terasah akan menghantarkan manusia pada puncak kebahagiaan dan terbebas dari belenggu permasalahan kehidupan yang semakin hari semakin berat.
Kemerdekaan /kebebasan jiwa inilah yang memacu semangat hidup mencapai tataran tertinggi dalam puncak kehidupan . Karena jiwa yang merdeka tidak akan terpengaruh dengan segala kesulitan dalam kehidupannya, walapun secara fisik dan materi kelihatan sengsara namun hanya karena kesadaran inilah bahwa apapun yang ada di dunia ini hanyalah semata – mata kehendak Allah. Dia akan menerima apapun yang terjadi. Inilah yang menghantarkan seseorang mampu menikmati karunia ilahi dalam setiap langkah kehidupannya.
Berapa banyak orang yang bergelimang harta, jabatan bahkan apapun bisa ia dapatkan. Namun karena jiwanya terbelenggu, maka hanya kecemasan dan ketakutan yang selalu ia dapatkan dalam menjalani hari – harinya . Naudzubillah… Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
REDAKSI
SILATURRAHIM
|
|