
Gema takbir berkumandang diiringi dengan nyala kembang api yang berwarna-warni. Para umat islam sedang merasakan kebahagiaan karena mereka telah berhasil menjalankan kewajiban puasa selama satu bulan berturut-turut.
Keesokan harinya mereka berbondong-bondong datang ke tanah lapang mencurahkan kegembiraannya dengan shalat idul fitri. Kemudian para anggota keluarga bersalama-salaman dan berpelukan, ada yang sampai menangis karena selama setahun ini tidak pernah memeluk dan dipeluk oleh anak-anaknya. Seolah-olah untuk mencurahkan kasih sayang dan maaf itu hanya pada saat hari raya saja. Setelah itu mereka bersilaturrahmi kepada tetangga, saling meamaafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.
Namun, setelah lebaran suasana mulai berubah kembali seperti hari-hari sebelumnya. Diskotik dan kafe yang biasanya kelihatan sepi di bulan Ramadhan kini sudah mulai ramai kembali.para pekerja seks komersial (PSK) juga sudah memulai kembali menjalankan rutinitasnya ke komplek-komplek.mereka juga tidak khawatir bila ada polisi yang lewat, karena bulan Ramadhan sudah selesai. Begitu juga dengan para muda-mudi yang pada saat Ramadhan seolah tidak saling kenal karena menjaga jarak dengan yang bukan muhrim di bulan puasa, kini mereka dapat kembali meluapkan kerinduannya. Seolah-olah mereka seperti sepasang suami istri yang sudah lama berpisah. Hingga tidak mengherankan kalau banyak tempat-tempat wisata penuh sesak dengan para muda mudi yang sedang kasmaran.
Lain diskotik lain pula masjid. Dulu yang biasanya para jama’ah shalat tarawih berjubel sampai ke halaman masjid. Kini terlihat sangat sepi. Seolah-olah tidak ada yang mengenal tempat ini. Lantunan suara-suara insan yang khusyuk membaca Al Qur’an pun juga tidak terdenagr lagi.
Lalu apakah arti Ramadhan yang kita jalani jika kita tidak berusaha ke arah yang lebih baik. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan semua anggota tubuh agar tidak berbuat maksiat. Selain itu dengan puasa di bulan Ramadhan, kita juga akan terdorong untuk meningkatkan ibadah-ibadah wajib dan sunah yang selama ini tidak terlaksana. Karena Allah menjanjikan pahala yang besar di bulan Ramadhan. Sehingga kita akan tetap istiqomah pada bulan-bulan berikutnya.
Jadi bulan Ramadhan bukanlah penjara yang mengekang kita sehingga kita merasa terbebas setelah melaluinya. Namun bagaimana kita bisa menjadi lebih baik dan lebih khusyuk dalam beribadah setelah melaluinnya. Karenanya mari kita istiqomah beribadah diluar Ramadhan dan jangan sia – siakan pendidikan bulan Ramadhan kemarin.(DNG)
HIDAYATULLAH COMM
Categories
- AGENDA DAKWAH (1)
- Agustus 2008 (10)
- DESEMBER 08 (6)
- Donatur dan Simpatisan Ar-Risalah (1)
- JANUARI 2009 (7)
- Juli 2008 (8)
- Juni 2008 (1)
- KAJIAN UTAMA (2)
- KONTAK KAMI (1)
- Nopember 08 (5)
- Oktober 2008 (7)
- REFLEKSI (1)
- September 2008 (9)
DAMAIKAN HATI DENGAN SILATURRAHMI
Oleh : Gus Syahri
Silaturrahim atau lebih dikenal dengan silaturrahmi adalah berarti kasih sayang. Dalam kehidupan di dunia ini sangatlah diperlukan yang namanya kasih sayang tersebut. Begitu juga dengan menyikapi alam dan lingkungan disekitar kita yang semuanya itu diperlukan sifat saling menyayangi.
Saat bulan syawwal seperti sekarang ini, banyak kita jumpai dimana – mana kaum muslimin satu sama lain saling bersilaturrami, saling bermaaf – maafan, saling mengunjungi sanak famili, sahabat karib, kerabat dan tetangga. Hal ini menjadi pemandangan yang sangat menyejukan ditengah – tengah kesenjangan sosial yang selama ini terjadi.
Dari mulai rakyat biasa, pejabat pemerintah, instansi pemerintah maupun swasta, sampai kepala negara tak mau ketinggalan, ikut merayakan Iedul Fitri ini dengan bersilaturrahmi. Mereka berlomba – lomba untuk menjadikannya sebagai momen yang tepat untuk kembali membangun ukhuwah islamiyah. Merajut kembali tali persaudaraaan yang terputus, merapatkan hubungan yang renggang dan lebih memupuk tali persaudaraan.
Hal ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW. “ Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan di panjangkan umurnya maka peliharalah hubungan silaturrahmi ” (H.R. Bukhori & Muslim ).
Itulah pesan Nabi kepada para sahabat dan juga ummatnya agar tetap bersilaturrahmi, karena dengan silaturrahmi akan terjalin rasa kasih sayang serta menambah panjang umur dalam arti selalu berbuat baik kepada sesama agar mendatangkan bantuan dan pertolongan dari Allah SWT.
Saat kita mendapatkan kesulitan dan berbagai problem kehidupan dengan memperbanyak silaturrahmi maka rahmat Allah akan turun menaungi hidup kita. Demikianlah dapat kita pahami betapa pentingnya arti silaturrahmi, sebagai kunci di bukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Semoga dengan silaturrahmi ini menjadi alat mempersatukan ummat, membangkitkan kasih sayang yang layu, mendamaikan hati beku dan memperluas rezeki. (iks)

Oleh : Danang A. M.
Puasa Ramadhan telah usai. Suasana Idul Fitri tengah menyelimuti seluruh lingkungan sekitar kita. Semua bergembira & bahagia, anak – anak, remaja dan orang tua merakayakannya. Ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama keluarga khususnya anak – anak kita bahwa idul fitri yang sebenarnya bukanlah menikmati bajubaru dan menerima uang jajan tambahan dari kerabat dan famili.
Idul fitri tidak hanya sekedar berkunjung ke sanak keluarga, teman dan kerabat atau sekedar menikmati lezatnya kue – kue lebaran yang dihidangkan. Haruslah kita pahamkan dan tanamkan kepada mereka, bahwa idul fitri adalah sarana pendekatan diri kepada Allah dengan mensyukurinya karena tantangan Ramadhan telah dapat kita lewati dengan sebaik – baiknya. Boleh bergembira asal jangan berlebihan, boleh suka cita karena saat idul fitri berkah dan karunia ilahi seolah – olah dicurahkan tiada henti, asal…jangan berlebihan.
Bukankah Allah tidak menyukai hal – hal yang berlebih – lebihan? Berlatih dan belajar untuk mengendalikan diri atas kebahagiaan yang kita terima perlu terus di dengungkan pada jiwa & diri anak – anak kita. Berlatih mengendalikan diri tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, 11 bulan berikutnya adalah ladang dan wahana ujian sesungguhya agar terapi puasa selama Ramadhan dapat kita implementasikan di 11 bulan berikutnya. Dan semoga Allah memberi kekuatan jiwa kita untuk terus mengabdi melalui media apapun. Allahumma amin.

Raga manusia termasuk derajat dimensi bumi yang akan kembali pada tingkat asalnya yaitu terurai lagi menjadi tanah. Sedangkah roh manusia termasuk derajat tertinggi, yang berasal dari Allah SWT. Hikmah yang terkandung dalam hal ini adalah bahwa manusia mesti mengemban beban amanah pengetahuan tentang Allah, oleh karena itu mereka harus mempunyai kekuatan dalam dua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan dalam kehidupannya.
Iedul fitri merupakan sarana peningkatan rohani pasca pengembangan jiwa dan raga lewat perintah berpuasa. Tidaklah dipungkiri bahwa ketika rohani mampu menangkap sinyal illahiah, tatkala Ramadhan beban hidup terasa ringan bahkan seperti hidup tanpa beban. Namun seringkali pasca Ramadhan ini, tatanan hidup kembali pada posisi semula, inilah tantangan terberat dalam mempertahankan eksistensi rohani yang tersambung dengan illahi.
Nafsu yang sangat dominan dalam kehidupan kita, sudah sangat menyatu dalam keseharian kita. Sehigga pengaruh nafsu ini seringkali melunturkan warna yang sudah kita ukir di bulan Ramadhan kemarin. Ibadah dan amal sholeh rasanya berat kita pertahankan dalam keseharian kita, kemaksiatan kembali digelar dalam setiap kancah lini kehidupan. Memang disamping nafsu yang sudah dominan dalam kehidupan kita, setan sangat tidak rela apabila hamba – hamba yang berserah diri kepada Allah selalu mengabdi kepada – Nya. Sehingga dengan tipu daya setan laknatullah tersebut, mereka berupaya membelokkan setiap insan yang ingin bertahan dalam sinyal illahiah, bahkan merekapun sudah berjanji akan menggoda anak Adam untuk menjerumuskan kedalam kesesatan yang nyata, kecuali hamba – hamba yang ikhlas (Mukhlasin). Yaitu hamba yang selalu ikhlas dalam setiap lngkahnya hanya mencari ridho Allah semata.
Maka tidak ada jalan lain untuk memerangi nafsu dan setan pacsa Ramadhan ini kecuali harus mampu menyadap kekuatan illahiah lewat ibadah dan amal sholeh yang istiqomah dan berharap pada perlinduangan-Nya. Semoga kebersihan hati dan kembalinya fitrah manusia yang suci ini, mampu kita pertahankan setelah iedul fitri ini. Sebab inilah modal dasar kita yang nanti rela atau tidak akan meninggalkan dunia ini untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang kita lakukan selama waktu yang Allah berikan kepada kita “ Taqobbalallahu minna Waminkum Taqobbal Yaa Karim…”
Ta’lim Ramadhan di Joyoboyo
Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 10/06/2008 | Oktober 2008 | 0 komentar »
Bulan Ramadhan yang penuh berkah kemarin, telah diisi dengan pengajian sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT, sekaligus mendekatkan diri kepada Nya. Karena itu pantas jika Apotek ‘ Joyoboyo’ dan Atika Busana mengadakan ta’lim Ramadhan bagi karyawan dan masyarakat umum, dengan nara sumber ustadzah Hj. Suharini dengan materi Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
Menurut ibu Hj. Sri Tindarwati, pengajian (ta’lim) Ramadhan ini tidak semata – mata dilakukan dibulan ini saja, tapi sudah ada sejak Agustus 2007 lalu yang diikuti oleh sekitar 40 – 50 orang peserta dari kalangan ibu – ibu ( muslimah )
Lebih lanjut Ibu Tindar mengatakan “ Pengajian ini diharapkan dapat menambah wawasan keislaman, mengingat manusia itu tidak tahu apa – apa, lemah dan hina. Untuk itulah dengan pengajian ini diharapkan kita selalu ingat kepada Allah dan mau terus belajar” katanya.
Sementara itu menurut Ibu Sri Mukti, pesarta jama’ah pengajian itu menyatakan “ Pengajian tersebut banyak sekali manfaatnya, disamping menambah iman, pengajian dapat menambah ilmu dan pengetahuan agama yang didapat mengingat kami masih baru ikut pengajian ini .” ujar Sri Mukti, pensiunan kepala Bank pemerintah daerah Jatim di Kediri, kepada redaksi Ar – Risalah. (ARS).
UN PGRI & STMIK BAKSOS KE P.A AR – RISALAH
Dalam rangka Ospek bagi mahasiswa barunya, Sekolah Tinggi Managemen Informatika Kadiri (STMIK) mengadakan bakti sosial ke panti asuhan Ar – Risalah Badar Lor Kediri sabtu (9/9) lalu. Baksos yang di laksanakan pada siang itu bertujuan untuk ikut berbagi bersama dengan adik – adik yang ada di panti asuhan sekaligus pengenalan kepada mahasiswa baru di STIMIK tersebut.
Dalam kesempatan itu ketua rombongan Baksos STMIK, mabk Isa telah menyerahkan bahan makanan berupa sembako, dan alat tulis untuk kepentingan adik – adik di yang diterima simbolis oleh lukman hakim, perwakilan dari P.A Ar – Risalah.
Sebelumnya pada sabtu (30/8) lalu, juga dilaksanakan bakti sosial dari Universitas Nusantara PGRI Mojoroto Kediri. Dalam kesempatan itu juga diserahkan sembako berupa beras, gula, mie, minyak goreng dan peralatan mandi dan lain- lain. Acara yang juga bertujuan sebagai upaya pengenalan mahasiswa baru kepada lingkungannya dan untuk lebih peduli kepada sesama dengan, memberikan bantuananya kepada panti asuhan Ar – Risalah Bandar Lor Kediri .(Iks)
INDOSAT KUNJUNGI AR - RISALAH
Diposting oleh Buletin Ar-Risalah | 10/06/2008 | Oktober 2008 | 0 komentar »
Didampingi Bapak Budi Suprayitno, rombongan Indosat Kediri telah mengunjungi P.A Ar - Risalah Bandar Lor, rabu 17 september 2008 dalam rangka silaturrahmi dan penyerahan bantuan sosial bagi kepentingan pendidikan, berupa kursi, buku dan peralatan sekolah.
Menurut Budi Supriyanto, bantuan pendidikan ini adalah wujud kepedulian Indosat Kediri kepada anak - anak panti asuhan agar dapat membantu dan meringankan pendidikan di Ar- Risalah.
Ia berharap bantuan yang telah diberikan dapat bermanfaat melancarkan proses belajar mengajar di panti asuhan dan di bidang pendidikan.
Sementara itu Syahri Al Fatih, mewakili keluarga besar Ar - Risalah mengucapkan terimakasih kepada Indosat Kediri yang telah sudi berbagi kepada anak - anak Ar - Risalah.
“ Terimakasih kami sampaikan kepada Indosat Kediri atas bentuan pendidikan yang telah diberikan kepada kami, semoga apa yang diberikan dapat membantu kami disini.” Katanya.
Karenanya ia pun mengajak kepada keluarga besar Indosat Kediri untuk terud berbagi dan peduli juga kepada perusahaan - perusahaan lainnya untuk bersama sama mengentas anak - anak yatim piatu di Ar - Risalah dengan berbagi , mengatarkan mereka meraih masa depannya. (ARS)
REDAKSI
SILATURRAHIM
|
|